DER Saham Adalah: Rumus, Cara Hitung, dan Nilai Ideal

der saham adalah

TL;DR

DER (Debt to Equity Ratio) adalah rasio yang membandingkan total utang perusahaan dengan total ekuitasnya. Rumusnya: DER = Total Liabilitas / Total Ekuitas. Nilai DER di bawah 1 menandakan utang lebih kecil dari modal sendiri, sementara DER di atas 2 umumnya dianggap berisiko tinggi. Standar ideal berbeda-beda tergantung sektor industri.

Saat menganalisis saham, salah satu angka yang sering jadi perhatian investor adalah DER. Rasio ini memberikan gambaran cepat tentang seberapa besar perusahaan bergantung pada utang untuk mendanai operasionalnya. DER saham adalah salah satu indikator fundamental yang wajib dipahami sebelum Anda memutuskan membeli atau menjual saham tertentu.

Pengertian DER dalam Analisis Saham

Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio keuangan yang membandingkan total utang (liabilitas) perusahaan dengan total ekuitas atau modal sendiri. Dalam bahasa sederhana, DER menunjukkan berapa rupiah utang yang dimiliki perusahaan untuk setiap satu rupiah modal pemegang saham. Semakin tinggi angkanya, semakin besar porsi pendanaan perusahaan yang berasal dari pinjaman.

DER sering disebut juga sebagai rasio leverage karena menggambarkan tingkat pengungkitan keuangan perusahaan. Investor menggunakannya untuk menilai apakah struktur permodalan perusahaan masih sehat atau sudah terlalu bergantung pada utang.

Rumus dan Cara Menghitung DER

Rumus DER cukup sederhana:

DER = Total Liabilitas / Total Ekuitas

Kedua komponen ini bisa Anda temukan di neraca (laporan posisi keuangan) perusahaan. Total liabilitas mencakup semua kewajiban, baik utang jangka pendek maupun jangka panjang. Total ekuitas adalah modal bersih perusahaan, termasuk modal disetor dan laba ditahan.

Hasil perhitungan bisa dinyatakan dalam angka desimal (misalnya 0,5) atau dalam persentase (50%). Keduanya menunjukkan hal yang sama.

Contoh Perhitungan DER

Misalnya PT ABC memiliki total liabilitas Rp500 miliar dan total ekuitas Rp1.000 miliar. Maka:

DER = Rp500 miliar / Rp1.000 miliar = 0,5 atau 50%

Artinya, untuk setiap Rp1 modal sendiri, perusahaan hanya punya utang Rp0,5. Ini menandakan struktur permodalan yang relatif konservatif.

Sekarang bandingkan dengan contoh nyata. Menurut data dari Mekari Jurnal, PT Unilever Indonesia (UNVR) pernah mencatat DER sebesar 1,23 kali (123%), dihitung dari total liabilitas sekitar Rp11 triliun dan total ekuitas sekitar Rp8,9 triliun. Angka ini masih tergolong wajar untuk perusahaan consumer goods berskala besar.

Baca juga: SIPAFI Kabupaten Probolinggo: Panduan Lengkap untuk Tenaga Farmasi

Nilai DER yang Ideal

Tidak ada angka DER universal yang berlaku untuk semua perusahaan. Namun, ada beberapa patokan umum yang bisa Anda gunakan:

  • DER di bawah 1 (kurang dari 100%): utang lebih kecil dari ekuitas, umumnya dianggap sehat
  • DER antara 1 dan 2: masih wajar untuk banyak sektor industri
  • DER di atas 2: mulai dianggap berisiko tinggi, terutama di sektor non-keuangan

Perlu dicatat bahwa sektor tertentu secara alami punya DER lebih tinggi. Perusahaan perbankan dan lembaga pembiayaan, misalnya, wajar memiliki DER jauh di atas 1 karena bisnis mereka memang berbasis pengelolaan utang. Sebaliknya, perusahaan teknologi yang tidak butuh banyak aset fisik cenderung punya DER rendah.

Di Indonesia, regulasi perpajakan menetapkan bahwa perbandingan utang terhadap modal paling tinggi adalah 4:1 (DER maksimal 4) untuk perusahaan umum. Pengecualian berlaku untuk sektor perbankan, asuransi, lembaga pembiayaan, dan pertambangan.

Cara Membaca Hasil DER untuk Keputusan Investasi

DER yang rendah tidak selalu berarti bagus, dan DER tinggi tidak selalu berarti buruk. Konteksnya sangat penting. Perusahaan dengan DER rendah memang punya risiko gagal bayar lebih kecil, tapi bisa juga berarti perusahaan itu kurang agresif memanfaatkan pendanaan eksternal untuk tumbuh lebih cepat.

Sebaliknya, perusahaan dengan DER tinggi mungkin sedang dalam fase ekspansi besar-besaran. Kalau utangnya digunakan untuk investasi produktif yang menghasilkan return lebih tinggi dari biaya bunga, maka DER tinggi justru menandakan strategi pertumbuhan yang agresif.

Yang paling penting adalah membandingkan DER perusahaan dengan rata-rata industri di sektor yang sama. DER 1,5 di sektor properti mungkin masih wajar, tapi DER 1,5 di sektor consumer goods perlu diteliti lebih dalam.

Keterbatasan DER sebagai Indikator

Meski berguna, DER punya beberapa keterbatasan yang perlu Anda pahami. Pertama, DER tidak membedakan antara utang produktif dan utang konsumtif. Perusahaan yang berutang untuk membangun pabrik baru tentu berbeda situasinya dengan perusahaan yang berutang untuk menutup kerugian operasional.

Kedua, DER hanya menunjukkan gambaran pada satu titik waktu. Angka ini bisa berubah drastis dalam satu kuartal, terutama kalau perusahaan baru saja menerbitkan obligasi atau melakukan right issue. Karena itu, lebih baik melihat tren DER selama beberapa periode, bukan hanya angka terakhir.

Ketiga, DER sebaiknya tidak digunakan sendirian. Kombinasikan dengan rasio lain seperti Debt to Asset Ratio (DAR), Interest Coverage Ratio, dan Return on Equity (ROE) untuk mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang kesehatan keuangan perusahaan.

DER vs Rasio Keuangan Lainnya

Investor pemula sering bingung membedakan DER dengan rasio utang lainnya. Berikut perbandingan singkatnya:

RasioRumusFokus
DERTotal Liabilitas / Total EkuitasProporsi utang terhadap modal sendiri
DARTotal Liabilitas / Total AsetProporsi aset yang didanai utang
Interest Coverage RatioEBIT / Beban BungaKemampuan membayar bunga utang

Ketiganya saling melengkapi. DER menunjukkan struktur modal, DAR menunjukkan seberapa besar aset yang dibiayai utang, dan Interest Coverage Ratio menunjukkan apakah laba perusahaan cukup untuk membayar beban bunganya.

Memahami DER saham adalah langkah awal yang penting dalam analisis fundamental. Rasio ini membantu Anda melihat seberapa besar risiko keuangan yang ditanggung perusahaan sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi. Tapi ingat, DER hanyalah satu bagian dari gambaran besar, selalu kombinasikan dengan indikator lain dan konteks industri untuk pengambilan keputusan yang lebih bijak.

FAQ

Apa itu DER dalam saham?

DER (Debt to Equity Ratio) adalah rasio yang membandingkan total utang perusahaan dengan total ekuitas atau modal sendiri. Rasio ini digunakan investor untuk menilai seberapa besar perusahaan bergantung pada utang dalam mendanai operasionalnya.

Berapa DER yang ideal untuk investasi saham?

Secara umum, DER di bawah 1 dianggap sehat karena utang lebih kecil dari modal sendiri. Namun, standar ideal berbeda-beda tergantung sektor industri. Perusahaan perbankan wajar punya DER tinggi, sementara perusahaan teknologi biasanya rendah.

Bagaimana cara menghitung DER?

Rumusnya adalah DER = Total Liabilitas / Total Ekuitas. Kedua angka ini bisa ditemukan di laporan posisi keuangan (neraca) perusahaan yang dipublikasikan setiap kuartal.

Apakah DER tinggi selalu buruk?

Tidak selalu. DER tinggi bisa menandakan perusahaan sedang dalam fase ekspansi dengan memanfaatkan pendanaan eksternal. Yang penting dilihat adalah apakah utang tersebut digunakan untuk investasi produktif yang menghasilkan keuntungan lebih besar dari biaya bunganya.

Di mana bisa melihat data DER perusahaan?

Data DER bisa dihitung dari laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan di situs Bursa Efek Indonesia (IDX). Beberapa platform seperti Stockbit, RTI, dan aplikasi sekuritas juga menyediakan data DER yang sudah dihitung otomatis.

Scroll to Top